Menyusuri Lorong Waktu di Karst Sangkulirang-Mangkalihat: Permata Tersembunyi Borneo yang Memukau
Ujoh Bilang- Di jantung Pulau Borneo yang hijau dan misterius, tersembunyi sebuah mahakarya alam dan sejarah yang memesona: Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Lebih dari sekadar hamparan batu kapur, kawasan seluas 1,8 juta hektare yang membentang di Kabupaten Berau dan Kutai Timur, Kalimantan Timur ini adalah sebuah lembaran buku raksasa yang mengukir cerita peradaban manusia puluhan ribu tahun silam. Inilah tempat di mana alam, seni, ilmu pengetahuan, dan spiritualitas menyatu dalam keagungan yang memukau.

Baca Juga : Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran Dijadwalkan Rabu, 17 September 2025
Sebuah Katedral Alam yang Megah
Bayangkan sembilan gunung kapur raksasa menjulang perkasa seperti benteng purba, dihiasi tebing terjal, sungai-sungai bawah tanah, dan ratusan gua yang gelap namun menyimpan rahasia besar. Formasi karst ini bukan hanya pemandangan yang memukau; ia adalah penopang kehidupan. Sebagai penampung air raksasa, sedikitnya lima sungai utama Kalimantan Timur berhulu di sini, menjadi urat nadi bagi masyarakat dan ekosistem di pesisir timur yang curah hujannya tidak tinggi.
Kawasan ini juga merupakan penangkap karbon dioksida (CO₂) alami yang sangat efisien, membantu mitigasi pemanasan global. Proses pelarutan batu kapur untuk membentuk lorong-lorong gua yang menakjubkan justru membutuhkan air yang asam, yang mampu menyerap emisi CO₂ dari lingkungan.
Galeri Seni Tertua di Dunia
Jika dinding-dinding gua ini bisa berbicara, mereka akan bercerita tentang manusia pertama yang menghuni Nusantara. Pada tahun 2018, dunia arkeologi gempar dengan sebuah temuan yang mengubah sejarah. Sebuah lukisan figuratif berupa gambar banteng berusia sekitar 40.000 tahun ditemukan di Gua Jeriji Saleh, menjadikannya salah satu karya seni figuratif tertua di planet ini, sezaman dengan lukisan-lukisan terkenal di gua-gua Spanyol.
Temuan ini adalah hasil kolaborasi peneliti Indonesia dan Australia, yang mengukuhkan bahwa peradaban maju telah ada di Borneo sejak Zaman Es. Lukisan itu bukan coretan biasa; ia adalah bukti imajinasi, spiritualitas, dan kemampuan artistik manusia purba.
Namun, banteng itu hanyalah satu dari ribuan cerita. Di langit-langit dan dinding gua, terdapat lebih dari 2.300 gambar (rock art) yang didominasi oleh susunan telapak tangan misterius, gambar perahu, figur hewan seperti rusa yang seolah terbang, hingga gambar saman (dukun) bertopi besar. Setiap gambar adalah sebuah kata dalam ensikloperia visual yang merekam evolusi budaya, dari masa ketika Kalimantan masih berupa savana berpadang rumput hingga menjadi hutan tropis yang lebat.
Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Purba
Keajaiban Sangkulirang-Mangkalihat tidak berhenti pada seni. Pada 2020, dunia ilmu pengetahuan kembali dikejutkan dengan penemuan kerangka berusia 31.000 tahun di Gua Liang Tebo. Yang membuatnya luar biasa, kerangka remaja tersebut menunjukkan bukti amputasi kaki yang berhasil disembuhkan.
Temuan ini mematahkan anggapan bahwa prosedur medis rumit hanya ada di peradaban yang lebih “modern”. Sang ahli bedah purba pastinya memiliki pengetahuan anatomi yang mendalam tentang otot, tulang, dan pembuluh darah untuk mencegah infeksi dan kehilangan darah. Mereka mungkin menggunakan tanaman herbal sebagai antiseptik dan pereda nyeri alami. Kerangka ini adalah bukti tertua amputasi yang berhasil dalam sejarah manusia.
Surga Keanekaragaman Hayati yang Terancam
Ekosistem hutan di sekitar karst yang masih perawan adalah rumah bagi kekayaan hayati yang luar biasa, termasuk lebih dari 120 jenis burung. Dua yang paling ikonik adalah walet sarang hitam (Collocalia maxima) dan walet sarang putih (Collocalia fuciphaga). Pada 2014, kawasan ini pernah menghasilkan hingga 80% sarang walet dunia, yang bernilai ekonomi sangat tinggi.
Produksi sarang walet yang melimpah ini sangat bergantung pada kelestarian ekosistem. Untuk memberi makan puluhan juta walet, dibutuhkan berton-ton serangga setiap harinya, yang hanya dapat disediakan oleh hutan hujan tropis yang sehat dan heterogen. Kerusakan hutan, seperti kebakaran besar tahun 1997, langsung berdampak pada penurunan drastis populasi walet dan produksi sarangnya.
Penjaga Tradisi dan Mitos yang Turun-Temurun
Masyarakat adat Dayak, seperti Dayak Lebo di Kampung Merabu, telah menjadi penjaga kawasan ini selama berabad-abad. Mereka memegang teguh kearifan lokal dalam mengelola sumber daya, termasuk tradisi memetik sarang walet. Pemetik sarang walet tradisional, yang disebut peremes, adalah orang-orang terpilih yang dipercaya memiliki “nyawa cadangan” dan dilindungi roh gaib.
Mereka hanya memetik di gua-gua tertentu berdasarkan kesepakatan adat, dengan sanksi yang sangat berat bagi yang melanggar. Sistem ini adalah bentuk konservasi tradisional yang telah melindungi kawasan karst dari eksploitasi berlebihan selama generasi.
Menuju Tahta Dunia: Deklarasi Geopark Nasional
Menyadari nilai universal yang luar biasa ini, Pemerintah Kalimantan Timur bersama berbagai pihak seperti Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengusung kawasan ini menjadi Taman Bumi (Geopark) Nasional. Pada 2024, Menteri ESDM telah menetapkan 26 geosite (situs warisan geologi) di dalamnya.
Status Geopark Nasional adalah langkah awal yang krusial. Ini bukan hanya tentang pengakuan, tetapi juga komitmen untuk melindungi, melestarikan, dan mempromosikan nilai-nilai ini secara berkelanjutan. Target besarnya adalah mengantarkan Karst Sangkulirang-Mangkalihat menjadi UNESCO Global Geopark, menyusul 12 kawasan lain di Indonesia yang telah diakui dunia.
Dengan status tersebut, dunia akan mengetahui bahwa Borneo tidak hanya tentang hutan dan orangutan, tetapi juga tentang sebuah katedral alam purba yang menyimpan galeri seni tertua, catatan medis pertama, dan warisan hidup yang terus bernapas hingga hari ini. Inilah permata yang paling berharga, warisan untuk seluruh umat manusia.















