Porwada PWI Kaltim 2025: Di Bontang, Neni Tekankan bahwa Persaudaraan Lebih Berharga dari Medali
Ujoh Bilang- Kota Taman kembali meriah! Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur tahun 2025 secara resmi dibuka dengan penuh semangat dan sukacita oleh Wali Kota Bontang, dr. Hj. Neni Moerniaeni, Suasana kehangatan dan sportivitas langsung menyelimuti arena pembukaan, menandai dimulainya ajang kebersamaan insan pers se-Kaltim.

Baca Juga : Wujud Nyata Komitmen Otorita IKN Kawal Kelestarian Lingkungan Di Ibu Kota Baru
Kegiatan yang akan berlangsung hingga 19 Oktober ini bukan sekadar turnamen olahraga biasa. Porwada 2025 hadir sebagai oase di tengah padatnya dinamika pemberitaan, menjadi wadah strategis untuk mempererat tali silaturahmi, sekaligus menyalakan kembali semangat hidup sehat di kalangan para jurnalis. Malam pembukaan dihadiri dengan meriah oleh kontingen wartawan PWI dari seluruh penjuru kabupaten dan kota di Kalimantan Timur, dengan tuan rumah PWI Bontang yang menyambut dengan tangan terbuka.
Lebih dari Sekadar Arena Kompetisi, Ini Panggung Kebersamaan
Dalam sambutannya yang penuh energi, Wali Kota Neni menyampaikan kebanggaan mendalam atas kepercayaan yang diberikan kepada Bontang untuk menjadi tuan rumah Porwada Kaltim yang ketiga. Dengan senyum khasnya, ia menyambut hangat seluruh atlet wartawan yang telah datang.
“Selamat datang di Bontang, kota kami tercinta. Terima kasih atas kehadiran dan semangat seluruh kontingen dari berbagai kota dan kabupaten se-Kaltim,” ucap Neni. Ia lantas menekankan filosofi utama ajang ini. “Ingat, Porwada bukan semata-mata soal memperebutkan medali dan gelar juara. Esensinya adalah tentang membangun jembatan persahabatan, memupuk solidaritas, dan mengukuhkan rasa persaudaraan di antara sesama insan pers. Di lapangan nanti, kita boleh bersaing, tetapi setelah pertandingan usai, kita adalah satu keluarga besar PWI.”
Apresiasi untuk Jurnalis dan Pentingnya Kesehatan di Balik Layar
Neni tak lupa mengapresiasi peran sentral para wartawan dalam membangun daerah melalui karya jurnalistik yang edukatif, faktual, dan berimbang. Di tengah apresiasi tersebut, ia menyelipkan kepeduliannya yang mendalam, yang selaras dengan latar belakangnya sebagai seorang dokter.
“Seorang wartawan harus sehat, baik secara fisik maupun mental. Di balik berita-berita yang kita baca, seringkali ada rekan-rekan jurnalis yang bekerja hingga larut, terpapar sinar biru gawai dan komputer yang dapat mengganggu ritme tidur,” tuturnya dengan nada prihatin namun penuh semangat. “Oleh karena itu, gaya hidup sehat harus menjadi pilihan, dan olahraga adalah kunci utama untuk menjaga keseimbangan hidup yang padat ini. Event Porwada ini adalah momentum yang tepat untuk mengingatkan kita semua akan hal itu.”
Sorotan Visi Bontang dan Profesionalisme Jurnalistik
Lebih jauh, Wali Kota Neni juga berbagi mengenai capaian dan program strategis Pemkot Bontang. Ia memaparkan visi Bontang sebagai kota jasa dan industri yang berkelanjutan, dengan komitmen kuat pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan ekonomi hijau. Salah satu program unggulan yang disinggung adalah “Gesit” (Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku), sebuah inisiatif untuk membangun budaya hidup bersih dan bertanggung jawab.
“Prinsipnya sederhana namun penuh makna. Kami meminta warga Bontang untuk bertanggung jawab penuh atas sampah yang mereka hasilkan sendiri. Tidak perlu repot mengurusi sampah orang lain. Dari sinilah kita mulai membangun peradaban dan lingkungan yang lebih baik,” jelasnya.
Menutup penyampaiannya, Neni menegaskan kembali pentingnya profesionalisme di dunia jurnalistik. Ia menyoroti perlunya sertifikasi kompetensi wartawan, bukan sebagai beban, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen terhadap publik. Baginya, sertifikasi adalah sebuah keniscayaan untuk menjaga integritas, kredibilitas, dan profesionalisme dalam sebuah profesi yang memiliki dampak sosial sangat besar.















