Silika Kaltim: Harta Karun yang Terkunci di Perut Bumi, Nasib Hilirisasi Masih Mengambang
Info Ujoh Bilang- Di balik gegap gempita transisi energi, Provinsi Kalimantan Timur menyimpan sebuah harta karun lain yang tak kalah berharga: pasir silika. Mineral yang menjadi tulang punggung industri modern dunia ini ternyata melimpah ruah di perut bumi Kaltim, dengan kadar kemurnian yang termasuk terbaik di dunia. Namun, potensi emas putih ini seperti terkurung dalam sangkar, lantaran wacana hilirisasi atau pengolahan lanjutan dinilai masih “jauh panggang dari api”.

Baca Juga : SD Negeri 001 Ujoh Bilang Terpilih sebagai Penerima Program Kreditalisasi Pendidikan Pusat
Pemerintah pusat memang telah menyalakan api semangat hilirisasi, mendorong agar pasir silika tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk-produk turunan bernilai tinggi seperti kaca, panel surya, semikonduktor, dan silikon metal. Namun, di lapangan, harapan itu berhadapan dengan realita yang kompleks.
Hulu Tak Jalan, Hilir Mustahil Dibangun
Tandi Soenarto, Ketua DPW Perkumpulan Tambang dan Industri Silika Indonesia (Pertamisi) Kaltim, menyuarakan kegelisahan yang dialami para pelaku usaha. Dengan tegas ia menekankan bahwa mimpi industri hilir akan runtuh jika fondasi di sektor hulu tidak diperbaiki terlebih dahulu.
“Logikanya sederhana, bagaimana kita bisa bicara tentang membangun pabrik pengolahan (hilir) yang canggih, kalau untuk menjamin pasokan bahan baku dari tambang (hulu) saja masih carut-marut? Industri hilir itu seperti mesin raksasa yang haus pasokan. Ia membutuhkan aliran bahan baku yang stabil, berkelanjutan, dan harganya kompetitif. Hulunya dulu yang harus beres,” ujar Tandi dalam wawancara dengan Kaltim Post di kediamannya di Samarinda.
Minat Investor Ada, tapi Terhalang Ketidakpastian
Gegap Bukti bahwa potensi Kaltim diperhitungkan di kancah global sudah ada. Perusahaan-perusahaan besar kelas dunia telah melirik. Kibing Group, raksasa industri kaca asal Tiongkok, hingga perwakilan Taipei Economic and Trade Office (TETO) pernah menjajaki peluang investasi di bumi Etam. Sayangnya, geliat awal yang menjanjikan itu berujung pada keheningan. Hingga detik ini, belum satu pun investasi besar tersebut benar-benar terealisasi.
Menurut Tandi, penundaan ini bukan tanpa alasan. Investor, terutama dari luar negeri, sangat sensitif dengan beberapa hal krusial. “Mereka butuh kepastian hukum yang jelas. Lalu, faktor keamanan beroperasi, jaminan pasokan bahan baku yang memadai untuk puluhan tahun, dan yang tak kalah penting adalah harga energi yang kompetitif agar produk mereka bisa bersaing di pasar internasional. Jika salah satu dari ini bermasalah, mereka akan berpikir ulang, atau lebih memilih investasi ke daerah lain yang lebih siap,” paparnya.
Momentum Emas yang Tidak Boleh Terlewat
Tandi mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang berlari menuju industri 4.0 dan transisi energi hijau, di mana silika berkualitas tinggi adalah bahan baku kritis. Dari panel surya untuk pembangkit listrik tenaga matahari, chip komputer, hingga kaca khusus untuk kendaraan listrik, semuanya membutuhkan silika.
“Ini adalah momentum emas bagi Kaltim. Kita punya cadangan melimpah dengan kualitas terbaik. Tapi momentum ini tidak akan lama. Jika kita lambat, pasar akan dicuri oleh daerah atau negara lain yang lebih cepat berbenah.
Pembenahan Tata Kelola Perizinan adalah Kunci
Lalu, apa solusi yang mendesak? Tandi menekankan bahwa langkah pertama dan paling krusial adalah melakukan pembenahan total terhadap tata kelola perizinan. Birokrasi yang berbelit, tidak transparan, dan lamanya proses perizinan menjadi momok bagi investor.
“Yang mendesak saat ini adalah penyederhanaan dan percepatan perizinan. Tata kelola yang jelas dan berpihak pada investasi yang berkelanjutan akan menjadi sinyal positif bagi dunia. Kaltim harus bisa bersaing dengan provinsi lain, bahkan dengan negara-negara di ASEAN.















