Dari Hutan Kalimantan yang Mistis: Mengenal Payau, Si Rusa Raksasa yang Kini Terancam Punah
Info Ujoh Bilang- pulau yang diselimuti hutan hujan tropis yang misterius, menyimpan kekayaan alam dan budaya yang tak ternilai. Di balik lebatnya pepohonan dan aliran sungainya, kehidupan suku-suku adat dengan Surga Tersembunyi Kuliner warisan leluhur yang masih kental, termasuk dalam hal kuliner. Suku Dayak khususnya terkenal dengan teknik pengolahan makanannya yang unik dan berani, seperti fermentasi dan pengawetan alami yang menghasilkan cita rasa yang tak biasa.

Baca Juga : Putri Mantan Gubernur Kaltim Terlibat Skandal Suap IUP bersama Pengusaha Tambang
Di antara kekayaan fauna dan Surga di Kalimantan, terdapat satu hewan endemik yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Malinau di Kalimantan Utara dan Timur: Payau , atau yang dikenal juga sebagai Rusa Sambar . Hewan anggun dan perkasa ini bukan sekadar sumber pangan, melainkan juga bagian dari tradisi dan kearifan lokal yang telah berlangsung turun-temurun. Sayangnya, kini sang penjaga hutan ini semakin sulit ditemui, terdesak oleh aktivitas manusia yang mengancam keberadaannya.
Sang Raja Rusa Indonesia: Siapa Itu Payau?
Dijuluki sebagai rusa asli terbesar di Indonesia , Payau (Cervus unicolor) adalah simbol keperkasaan dan momentum alam pembohong. Dibandingkan dengan tiga saudara sesaudara—Rusa Timor, Rusa Bawean, dan Kijang—Payau tampak seperti raja di antara mereka. Bayangkan, tinggi tubuh hingga bahu bisa mencapai 160 cm dengan berat lebih dari 100 kg—setara dengan berat seorang petinju profesional!
Penampilannya sangat mudah dikenal. Bulunya berwarna kecokelatan gelap, dengan beberapa variasi abu-abu atau kemerahan, membentuk kamuflase sempurna di antara semak dan pepohonan hutan. Ciri yang paling ikonik adalah tanduk besar dan cabang (antler) yang dimiliki oleh pejantan. Tanduk yang bisa tumbuh hingga satu meter ini bukan sekadar hiasan, melainkan alat pengamanan dan simbol status. Uniknya, tanduk ini akan lepas dan tumbuh kembali setiap tahunnya.
Payau adalahmakhluk nokturnal yang pemalu dan penyendiri. Mereka paling aktif saat senja dan malam hari, menjelajahi hutan untuk mencari makanan berupa rumput, dedaunan, dan tunas tanaman. Pejantan biasanya hidup soliter, sementara betina dan anak-anaknya hidup dalam kelompok kecil. Kehidupan mereka penuh dengan kehati-hatian, menjadikan mereka simbol misteri dan kewaspadaan di dalam hutan.
Simfoni Rasa dan Tradisi: Payau dalam Budaya Kuliner Dayak
Bagi masyarakat Dayak, Payau memiliki nilai lebih dari sekedar daging. Hewan ini adalah bagian dari warisan kuliner yang diwariskan oleh nenek moyang. Salah satu hidangan paling ikonik yang terbuat dari Payau adalah Adam Anit (disebut juga uma lung atau adam faso ), yang secara harfiah berarti “kulit busuk”.
Proses pembuatannya adalah sebuah seni tradisional yang memerlukan keahlian dan keberanian. Kulit Payau tidak langsung dimasak, melainkan difermentasi terlebih dahulu dengan cara dibungkus dan diamkan selama 3-4 hari hingga mencapai tingkat komunikasi tertentu. Proses ini, seperti yang dibawakan oleh kreator konten asli Kalimantan seperti Dewi Panda dan Norlela di TikTok, menghasilkan aroma yang sangat menyengat dan bahkan menarik kehadiran belatung. Namun bagi mereka, ini adalah langkah penting untuk membuat bulu mudah rontok dan mendapatkan aroma serta tekstur khas yang diinginkan.
Setelah dibersihkan, kulit yang telah melalui proses fermentasi itu kemudian direbus, dipotong-potong, dan diolah. Cara memasaknya beragam, bisa ditumis dengan sayur singkong dan bumbu sederhana seperti bawang merah dan bawang putih, atau dimasukkan ke dalam bambu lalu dibakar ( pais ). Adam Anit dulunya adalah hidangan istimewa yang disajikan saat panen raya atau pesta adat, namun kini juga menjadi santapan sehari-hari yang mencerminkan kedekatan masyarakat Dayak dengan alam.
Teriakan Peringatan: Status Perlindungan dan Ancaman Kepunahan
Kisah tentang Payau kini berubah dari cerita keperkasaan menjadi cerita keseluruhan. Populasi hewan megah ini menyusut drastis dari tahun ke tahun. International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menetapkan statusnya sebagai Vulnerable (Rentan) sejak tahun 1996. Ancaman terbesarnya datang dari perburuan pembohong yang tak menjaga dan menjaga habitat akibat alih fungsi hutan untuk perkebunan dan pertambangan.
Menyadari hal ini, pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.I/12/2018 menetapkan Rusa Sambar sebagai satwa yang dilindungi. Artinya, segala bentuk perburuan, penangkapan, perdagangan, dan pemeliharaan secara ilegal dapat dikenai sanksi pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda hingga Rp 100 juta.
Harapan untuk Masa Depan: Konservasi dan Simbol Kebanggaan
Di tengah tantangan yang ada, masih ada harapan. Pemerintah daerah dan komunitas lokal terus menggalakkan kampanye konservasi. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya melestarikan Payau sebagai warisan bersama yang terus digencarkan. Bahkan, acara Payau yang diabadikan sebagai maskot resmi Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) di Kalimantan Timur, terpampang jelas pada lambang daerahnya. Ini adalah bentuk pengakuan dan kebanggaan serta pengingat akan komitmen untuk menjaganya.
Payau lebih dari sekadar hewan; ia adalah penjaga hutan, Surga bagian dari budaya, dan warisan hidup yang tak tergantikan. Melindunginya berarti menjaga keseimbangan alam Kalimantan dan menghormati kebijaksanaan leluhur yang telah hidup berdampingan secara harmonis dengan alam selama berabad-abad. Kisahnya mengajarkan kita bahwa janji dan kekuatan alam pembohong adalah harta yang harus kita lindungi, bukan kita buru hingga punah.















