Diamankan Polisi, 5 Pemuda Kaltim Menuai Kecaman Usai Viral Tunggangi Penyu Hijau di Derawan
Info Ujoh Bilang- Sebuah video aksi tidak terpuji 5 pemuda yang dengan seenaknya Tunggangi penyu hijau (Chelonia mydas) di perairan Pulau Derawan yang tenang menjadi sorotan tajam netizen. Aksi yang direkam dan menyebar luas di media sosial itu memicu gelombang kemarahan dan keprihatinan publik, yang akhirnya berujung pada pengamanan 5 pelaku oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Pulau Derawan.

Baca Juga : Khidmat Upacara Penurunan Bendera di Mahulu Jadi Momen Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan
Kapolsek Pulau Derawan, AKP Iwan Purwanto, menegaskan bahwa pihaknya bergerak cepat menanggapi laporan video viral tersebut. “Tak lama setelah video itu viral, kami langsung melakukan penelusuran identitas dan lokasi para pelaku. Alhamdulillah, kami berhasil mengamankan mereka dan membawa mereka ke aula Kantor Kepala Kampung Pulau Derawan untuk dimintai klarifikasi,” jelas Iwan kepada awak media.
Kelima pemuda yang terlibat adalah YO (25) yang merupakan warga asli Pulau Derawan, serta FAS (21), AB (21), EAF (21) yang berasal dari Samarinda, dan JKG (21) warga Tanah Grogot. Disebutkan bahwa empat dari mereka masih berstatus sebagai mahasiswa.
Permintaan Maaf di Hadapan Masyarakat
Berbeda dengan proses hukum formal yang biasanya dilakukan di kantor polisi, penyelesaian kasus ini juga melibatkan pendekatan kearifan lokal. Para pelaku dihadapkan dalam sebuah forum klarifikasi yang dihadiri oleh perangkat kampung setempat dan warga masyarakat. Dalam forum itu, mereka tidak bisa mengelak dari kesalahan yang telah diperbuat.
Dengan penuh penyesalan, satu per satu dari mereka menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Mereka mengakui bahwa aksi menunggangi penyu tersebut adalah sebuah kesalahan besar yang tidak hanya merusak citra pariwisata Derawan tetapi juga mengancam kelestarian satwa yang dilindungi.
Penyu Hijau: Satwa Langka yang Dilindungi
Aksi “tunggang penyu” ini bukanlah hal yang sepele.
Perilaku mengganggu dan menaiki penyu dapat menyebabkan trauma, stres, dan bahkan cedera fisik pada hewan tersebut. Aktivitasnya yang sedang beristirahat, mencari makan, atau bahkan bernapas di permukaan air bisa terganggu, yang berpotensi mengancam nyawanya.
Insiden ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi kelima pemuda tersebut dan juga masyarakat luas. Ekowisata seperti di Kepulauan Derawan adalah anugerah yang harus dijaga.















